HALAL BIHALAL DAN PENGABDIAN DI BULAN SYAWAL 1443 H

 

Akhir bulan Ramadhan menjadi awal bulan Syawal dan selama satu bulan pula umat muslim diingatkan tentang makna mengekang hawa nafsu. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari berinterkasi satu sama lain. Dalam interaksi tersebut tidak jarang terjadi gesekan antara satu dengan lainnya di mana ada pihak yang dirugikan. Keadaan inilah yang melatar belakangi perlunya halal bihalal untuk menyelesaikan hak-hak adami di masyarakat. Namun demikian perlu diingatkan bahwa halal bihalal baru menyelesaikan aspek moral saja dan tidak sekaligus aspek hukumnya. Rasulullah telah memberikan keteladanannya bahwa persoalan hukum terhadap seseorang sebaiknya diselesaikan secara hukum dan bukan sekadar meminta maaf.

 

Halal bihalal yang diikrarkan secara tertulis atau lisan dengan menyatakan, misalnya, “Mohon maaf lahir batin atas seluruh kesalahan saya,” pernyataan tersebut sangat umum, dalam arti tidak menyebut kesalahan tertentu secara jelas. Jika kemudian permintaan maaf tersebut dijawab dengan pernyataan umum pula, misalnya, “Ya sama-sama saling memaafkan,” maka kedua belah pihak telah saling memaafkan dan tuntaslah persoalan mereka. Sampai di sini persoalan moral sudah bisa dianggap selesai.

 

Hari ini Senin 9 Mei 2022 M atau bertepatan dengan 8 Syawal 1443 H, bertempat dihalaman parkir Pengadilan Agama Purwokerto, segenap Aparatur Sipil Negara (ASN) kembali memberikan pelayanan kepada masyarakat pencari keadilan sebagai wujud nyata mengabdi bagi negeri. Apel Senin pagi ini menjadi pembuka segala kegiatan di Pengadilan Agama Purwokerto dan dilanjutkan dengan halal bihalal secara sederhana namun penuh hikmat antar sesame pegawai. Semua elemen mulai dari unsur Hakim, Pejabat Kepaniteraan, Pejabat Kesekretariatan sampai dengan staf pun berbaur. Semua berbaur dan melebur saling memaafkan atas segala kekhilafan yang telah diperbuat selama bergaul. “Tidak ada gading yang tak retak” peribahasa mengingatkan tentang filosofi hidup. (more[one]two)