virus ngetren sekarang ini....

CORONA

Drs. H. Khamimudin, MH.*

 

         Virus mematikan yang dikodekan dengan 2019-nCov oleh WHO dideteksi untuk pertama kali di Wuhan Propinsi Hubei China. Pakar virology dari University of Nottingam, Profesor Jonathan Ball, menyebut dugaan awal virus korona ini bermula di pasar ikan kota Wuhan yang menjual mamalia laut seperti paus Beluga yang memiliki kemampuan membawa virus korona.

Sumber lain mengatakan bahwa virus ini diduga berasal dari binatang ayam, kelelawar, kelinci, tikus dan ular yang memang dijualbelikan di pasar itu. Ahli Patologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB Profesor Drh. Agus Setiyono merilis hasil risetnya bersama Research Center for Zoonosis Control (RCHC) Hokkaido University Jepang tentang kelelawar yang diduga mengandung virus berbahaya seperti korona yang mewabah di Cina. Gen kelelawar jenis pemakan buah memang ada kesamaanya dengan gen manusia sekitar 70 persen.

            Merupakan kebiasaan masyarakat di Wuhan yang memakan apa saja, seperti digambarkan oleh Dahlan Iskan (Thong Bao, di Radar Banyumas, Jum’at, 24-2-2020): “Di Tiongkok memang terkenal dengan istilah: semua yang berkaki dimakan kecuali meja-kursi, semua yang terbang dimakan kecuali kapal terbang (pesawat), dan semua yang melata dimakan, kecuali, kereta api”. Ini menggambarkan betapa rakusnya manusia.

            Di pasar-pasar di kawasan Indonesia Timur banyak juga dijualbelikan hewan-hewan seperti tikus, ular, kelelawar dan hewan-hewan lain yang tidak boleh (haram) dikonsumsi oleh masyarakat Muslim.

Menjaga asupan makanan

 Allah SWT telah mengajarkan kita agar hanya mengonsumsi makanan yang HALAL

  zatnya (benda, obyeknya), cara memperolehnya, dan cara memanegnya (mengolahnya) dan THOYYIB ( bernilai gizi, bermanfaat bagi tubuh). Dan makan minumlah kamu tapi tidak boleh berlebihan.

            Rasulullah SAW memberikan aturan makan yang sehat, yaitu: :Makanlah ketika kita betul-betul lapar, dan berhentilah sebelum kenyang.”

Ibnu Sina, pakar kedokteran Islam generasi awal, berkata: “Perhatikanlah konsumsi perutmu sebab sebagian besar penyakit bermula dari makanan yang berlebihan.”.

Dalam Al-Quran,  Allah ber firman : وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ   (QS Al A’raf: 157).

“Dan Allah mengharamkan bagi mereka segala hal yang *KHOBAITS *

Asal kata الخَبِيْثُ/الخُبْثُ (Al Khobits/Al Khubts) dalam Bahasa Arab adalah sesuatu yang tercela, dibenci, dan buruk, baik berupa ucapan, atau perbuatan atau harta atau makanan atau minuman atau seseorang atau keadaan. (Lihat Tahdzib Asma’ wal Lughot, 2/87) Jadi sifatnya lebih umum. Allah mengharamkan segala sesuatu yang khobits, termasuk diantaranya adalah makanan yang khobits .

 Al Khobaits pada ayat di atas, memiliki beberapa makna: 1. Makanan haram, yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dilarang menyantap makanan haram seperti : babi , darah , khamr, 2. Segala sesuatu yang merasa jijik untuk memakannya, seperti ular , tikus dan hasyarot (berbagai hewan kecil yang hidup di darat).

Upaya pencegahan

Yang diserang virus ini adalah protein ACT3 yang ada pada manusia, sementara belum ditemukan obatnya, maka karantina menjadi alternatif terbaik untuk pencegahan agar virus tidak meluas.         

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk menghadang penyebaran virus Korona dengan cara menutup pintu masuk ke tanah air bagi pendatang dari Cina daratan.

Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Kemenlu dan instansi terkait untuk evakuasi 243 WNI di Propinsi Hubei Tiongkok China, “Sesuai protokol kesehataan, seluruh penumpang harus melalui pemeriksaan kesehatan berlapis, baik yang dilakukan otoritas kesehatan RRT maupun tim dokter Indonesia di Bandara Internasional Wuhan,” demikian kata Direktur Perlindungan WNI Kemenlu RI Judha Nugraha dalam siaran pers, Ahad (2/2) dan setelah tiba di tanah air mereka langsung dikarantinakan selama 14 hari di Natuna.

Apa yang diupayakan oleh Pemerintah Indoensia telah sesuai dengan prosedur yang dilakukan oleh Rasulullah SAW., pada masanya.

Dari Abdullah bin Amir bin Rabi’ah bahwa pada suatu ketika Umar bin Khathathab  pergi ke Syam. Setelah sampai di Saragh, beliau mendengar ada wabah yang sedang berjangkit di Syam., Maka Abdurrahman bin Auf mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:”Apabila kamu mendengar wabah penyakit di suatu negeri, janganlah kamu datang ke negeri itu. Apabila waabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu ke luar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya.” Maka Umar pun kembali dari Saragh. Dan Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah; Umar kembali bersama oraang-orang setelah mendengar hadis Abdurrahman bin Auf. (HR. Muslim).

*Penulis adalah Hakim Pengadilan Agama Purwokerto.