BAHASA SUPORTIF

 

             Pernah seorang atasan ditanyai: “Apakah ia sadar telah melukai hati bawahannya dengan kata-kata yang menunjukkan ia tidak percaya pada kualitas kerja anak buahnya. Bahkan, membuat mereka merasa kecil dan bodoh?”

 

            Ternyata si atasan tidak pernah menyadari hal itu, bahkan menganggap bahwa hal tersebut cara mendidik anak buah agar “jadi orang”. Ia menganggap kalimat empatetis kurang businesslike  dan khawatir malah tidak dianggap oleh anak buahnya. Sementara itu, alih-alih berkembang, anak buah malah semakin menjaga jarak menghindari konfrontasi dengan atasannya.

 

            Kelly Greenwood  dan Julia Anas  dalam It’s a New Era for Mental Health et Work menyatakan, semakin kuat hubungan personal organisasi, semakin jarang karyawan izin sakit. Jadi agar karyawan lebih produktif dan inovatif, atasan perlu mengubah cara komunikasinya.

 

Toxic positivity

 

            Kita percaya bahwa kalimat yang kita gunakan akan mempengaruhi cara berpikir kita, mempengaruhi emosi kita, dan bisa menularkan emosi tersebut ke orang lain. Ada pepatah “mulutmu harimaumu” agar kita berhati-hati dengan yanag kita ucapkan. Jangan sampai membawa hal-hal buruk menjadi kenyataan, jangan sampai menyakiti orang lain. Ada orang yang sampai pantang mengucapkan kata: “bangkrut, rugi, susah, dan  lain sebagainya.

 

            Menurut Tabitha Kirkland, psikolog dari University of Washington, penyebab toxic positivity  adalah kurangkanya empati. Individu yang tidak nyaman dengan emosi-emosi negative dan tidak tahu bangaimana cara bereaksi yang tepat, cenderung menggunakan pernyataan-pernyataan yang positif ini agar emosi negative yang mereka rasakan ini agar segera berganti.

 

Ada juga individu yang dengan cepat memberikan solusi yang mereka pikir dapat menyelesaikan masalah teman yang sedang ditimpa kemalangan. Tujuannya memang baik yaitu ingin memberikan semangat baru atau jalan keluar.Namun, pada implementasinya, hal ini justru dapat membuat orang yang mengalami masalah merasa terabaikan, terasing, tidak memiliki orang yang dapat memahaminya.

 

Kebahagiaan tidak berasal dari penekanan atau pengabaikan emosi negatif. Namun justru dengan kesadaran menerima apa pun emosi yang sedang kita alami, baik negatif ataupun positif sebagai bagian dari diri kita, bagian dari hidup yang sedang kita jalani.

 

Kita perlu menyadari bahwa emosi sebenarnya sumber informasi yang sangat kaya. Rasa takut membuat kita berhati-hati terhadap kemungkinan adanya bahaya, sementara perasaan bersemangat dapat mendorong tumbuhnya kraetivitas dan ketebukaan melihat peluang-peluang baru.

 

Dengan menerima emosi orang lain dan diri sendiri, kita pun menjadi lebih nyaman dengan diri sendiri dan masa terbebaskan dari keharusan membuat orang lain merasa nyaman. Sebagai atasan, kita perlu hati-hati jangan sampai menciptakan suasana anak buah merasa  unseen, unheard,  atau unsupported.

 

 

 

Kekuatan emonsioanl intelligence

 

            Banyak pemimpin berpikir bahwa tempat bekerja adalah tempat rasio harus berperan secara penuh, tanpa emosi. Mereka tidak percaya bahwa emosi juga sangat berpengaruh dalam pekerjaan.

 

            Farah Harris,  menggambarkan orang yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi adalah mereka yang nyaman dengan emosinya dan bisa menebarkan aura yang nyaman sehingga membuat suasana kerja produktif.

 

            Ada beberapa hal yang hisa diingat bila mau menerapkan kehidupan emosional yang sehat di lingkungan kerja, yaitu:

 

Pertama, validasikan pengalaman lawan bicara. Tindakan ini merupakan pengakuan terhadap apa yang dirasakan oleh lawan bicara. Bisa diekspresikan dengan kata-kata: “saya mengerti…” atausaya bisa merasakan apa yang kamu rasakan….

 

            Kedua, dalami masalahnya. Bila ingin suportif, kita perlu belajar mendalami situasi yang dialami lawan bicara. Optimalkan ketrampilan mendengar aktif Anda sampai benar-benar tahu dukungan apa yang bisa kita berikan pada mereka.

 

            Ketiga, bombing fisik dan emosinya. Dalam keadaan kritis, seseorang sering mengalami kebingungan bagaimanaa ia dapat menyelesaikan masalahnya. Kita bisa menawarkan bantuan spesifik yang kita pikir akan berguna baginya atau langsung bertanya, “Bagaimana saya dapat membantumu?” Tunjukkan bahwa kedua tangan Anda terbuka untuk apa pun yang ia butuhkan.

 

            Keempat, ajak berbagi perspektif. Mereka yang sedang mengalami keslulitan, sering hanya memiliki pandangan terbatas karena sisi lainnya ditutupi rasa kalut, khawatir, maupun takut. Kita bisa membantu mereka melihat hal-hal lain dari permasalahan tersebut yang mungkin dapat memberikan titik terang. Namun, di sisi lain, kita juga harus hati-hati untuk tidak memaksakan pandangan kita yang belum tentu cocok untk mereka.

 

            Kelima, akui dan tunjukkan penghargaan. Untuk datang dan berhadapan dengan pimpinan saja, sudah membutuhkan keberanian dari anggota tim. Mereka daatang karena percaya bahwa pimpinan akan bertindak adil. Di sinilah pemimpin harus berterima kasih atas kepercayaan mereka dan menambah  sense of safety-nya. (disarikan dari rubrik Karier, KOMPAS, sabtu, 11 Juni 2022).